Diarsipkan di bawah: Yang Terfikir Olehku
Pertama kali Saya injakkan kaki di Kota “Gudeg” Yogyakarta, pada 2 Agustus 1994, tatkala mendapatkan “kehormatan” untuk mengikuti diklat Tutor DII PGSD secara nasional (Setelah beberapa diklat sebelumnya selalu memperoleh predikat 3 terbaik dalam diklat sejenis di Palembang).
Ternyata Saya kembali merasakan bahwa apa yang terbaik yang telah saya unjukkan di Palembang, tatkala di Yogyakarta tak berarti banyak. Bisa jadi karena Saya berkumpul dalam suatu kegiatan yang menyertakan orang-orang terbaik mewakili provinsi lainnya, atau bahkan bisa jadi karena yang Saya peroleh sebelum ini masih jauh terbelakang dibandingkan dengan yang telah dilakukan di privinsi lain, khususnya Pulau Jawa dan DKI Jakarta.
Sayapun pulang setelah 2 pekan, dari kegiatan dengan kepuasan yang sangat besar, bukan karena telah menjadi terbaik di sana (Yogya), melainkan karena telah belajar banyak dari sana. Belajar dari kekurangan-kekurangan selama ini. Lebih dari itu, Saya mulai mengenal Yogyakarta untuk pertama kalinya, sebagai pusat pembelajaran matematika, pusat budaya, pusat keramahan bumi ini, contoh kolaborasi antara kepatuhan terhadap nilai leluhur dengan keterbukaan dalam menyerap budaya asing, bahkan pusat toleransi keberagaman yang sekarang sudah mulai pudar.
Kali kedua Saya ke Yogya, mengemban tugas sebagai (Calon) Peserta Diklat Instruktur Matematika Jenjang Dasar. Tanggal Kembali dilaksanakan di Pusat Pengembangan dan Pelatihan Guru (PPPG) Matematika yang berlokasi di Condong Catur , Depok, Sleman, Yogyakarta.
Kondisi mental sudah lebih enjoy, karena sudah pernah kenal dengan medan kegiatan. Kultur masyarakatnya pun sudah tidak lagi asing.
Saya belajar, berfikir, bekerja, dan berencana di sini sampai akhirnya tuntaslah kegiatan. Kepuasan menjadi semakin kental karena bisa unjuk kemampuan secara lebih kompetitif. Ber-sharing pengalaman dan pendapat dengan guru-guru matematika terbaik yang mewakili tiap privinsi di Indonesia adalah sebuah perjalanan yang paling berkesan. Walaupun tidak menjadi yang terbaik, tapi Saya telah memperoleh yang terbaik dari kegiatan ini, yakni: paradigma, kemampuan, dan kepercayaan diri. Bukan semata sebagai modal menghadapi anak didik melainkan untuk rekan-rekan seprofesi.
Ketiga kalinya ke Yogyakarta, dalam lanjutan diklat berikutnya, yaitu Diklat Instruktur Matematika SMA Jenjang Lanjut, pada bulan Juli 2006. Konon kabarnya, peserta dalam kegiatan ini adalah hasil seleksi dari peserta pada kegiatan sebelumnya.
Terhadap sesama peserta, subhanalloh, ternyata tidak lagi merasa seperti orang lain, melainkan seolah dengan sahabat atau saudara sendiri. Sahabat yang mewakili setiap pelosok bumi ini. Kalau Saya ditanya, “Siapa orang terdekatmu selain saudara yang sedarah dan tetanggamu?” Jawabannya adalah “Rekan peserta penataran di Yogyakarta”. Mungkin karena ada catatan khusus pada episode ini, yakni adanya bencana dahsyat ditengan kegiatan yang berlangsung: gempa bumi Yogyakarta, yang dahsyat yang memakan ribuan nyawa.
Perasaan trauma, kepanikan, dan perasaan ingin saling melindungi, mungkin yang menjadi pengikat bathin sesama peserta tahun ini.
Kegiatan pun dihentikan secara terpaksa, dan peserta dipulangkan. Akankah ada kegiatan penggantinya di kemudian hari?
Gempa bumi dahsyat yang melanda Yogyakarta, membuat banyak skenario berubah. Perhatian dunia waktu itu tertuju ke Yogyakarta. Kota yang selama ini populer dengan “kedamaian” nya, ternyata telah membuat publik di negeri ini prihatin dengan kondisinya yang porak poranda (walau hanya terpusat di bagian selatan Yogyakarta, yakni Bantul, Sleman, dan sekitarnya). Ironisnya, saat itu kecemasan warga Yogya, bukan pada gempa bumi (karena siapa tau akan datang gempa) melainkan pada terbatuk-batuknya Gunung Merapi dengan kontroversi Mbah Marijan-nya.
(Perihal kondisi dan dampak pasca gempa bumi Yogya, Saya serahkan kepada Metro TV untuk menayangulangkannya secara lebih gamblang, setuju….)
Setahun kemudian, ternyata yang selama ini “dipertanyakan” terjawab sudah. Awal Juli 2007, tepat 1 tahun dari pelatihan sebelumnya yang “dibubarkan” karena gempa, Saya dipanggil kembali untuk mengikuti diklat yang sama, Diklat Instruktur Matematika SMA Jenjang Lanjut (Jilid II).
Walaupun tidak se-khusyuk diklat tahun lalu, tapi Saya jalani, Saya ikuti, dan Saya jalankan semua instruksi serta aturan main dalam diklat ini. Namun sisi lain terasa jauh lebih kental dalam perjalanan diklat kali ini, yakni reuni alumni gempa, sambung rasa, dan canda ria, serta pendekatan hati dalam kapasitas sebagai saudara atau sebagai sahabat yang terpisahkan dalam bentangan peta nusantara, dari Aceh yang paling barat sampai Papua yang paling Timur.
Bukan bermaksud mengecilkan kompetensi yang dicapai pasca diklat, akan tetapi nuansa persaudaraan dan persahabatan, rasanya lebih mengedepan. Barangkali karena secara akumulatif Saya dan kawan-kawan telah berada dalam satu atap, satu ruang, satu cerita, satu pengalaman, dan satu harapan selama lebih dari 5 pekan ( 2 pekan tahun 2005, 1 pekan tahun 2006 dan 2 pekan tahun 2007). Mungkinkah akan dipertemukan kembali pada masa yang akan datang?. Wallohualam… Walau semuanya bisa terjdi. Entah dalam diklat Jenjang Menengah, diklat pemanfaatan komputer, diklat multimedia, atau apa saja lah…
Belum Ada Tanggapan sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
