Saya sangat tidak percaya!
Sebab fitrah manusia hidup diantaranya adalah “berusaha”. Maka, mem-vonis bahwa kesempatan hanya datang sekali, berarti telah mengabaikan fitrah manusia, sekaligus mengingkari sunatullaah. Bukanlah “Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sehingga kaum itu sendiri yang mengubahnya”, demikian kata ajaran agama (Islam).
Tulisan ini, dimaksudkan agar kita tetap dalam kesadaran kita, bahwa “kewajiban” menangkap sebuah peluang, tidak harus membabi buta, atau hanya menjatuhkan vonis pada kesempatan pertama.
Hari ini kita “diberi” sebuah peluang, trus kita lalai memanfaatkannya, menurut Saya bukanlah berarti “kiamat sudah tiba” dan kita menerima suatu ketentuan yang lebih buruk.
Boleh jadi, menolak sebuah peluang (baca: kesempatan) adalah sebuah kekeliruan. Akan tetapi, bukan akhir dari segalanya. Bukankah setelah hari ini, masih ada esok. Demikian pula setelah esok, ada pula hari hari berikutnya.
Tangkaplah peluang, jika kita bisa menaklukannya saat itu. Tetapi biarkanlah ia terlepas dulu, bila kita yakin bahwa peluang itu datang dengan volume yang lebih besar esoknya.
Maksudnya, jika memang saat ini kita “harus gagal”, terimalah dulu. Karena bisa jadi masih ada waktu berikutnya untuk menebus kegagalan itu. Karena “hidup di dunia tidak permanen”
Oleh: kandisraya | 8 April , 2009
Kesempatan Datang Sekali?
Ditulis dalam Yang Terfikir Olehku